Kamis, 15 Agustus 2013

Hitchcock

Saya memang penggemar Alfred Hitchcock, terutama film-film buatannya. Plot di dalam film-film Hitchcock itu senantiasa menarik dan membuat penasaran hingga akhir film. Bagi saya, film-film Hitchcock memang bukan film biasa. Jadi saat saya tahu ada sebuah film yang menceritakan sedikit tentang kehidupannya, film ini langsung masuk top 10 tontonan pilihan saya. Saya benar-benar penasaran ingin melihat bagaimana legenda perfilman Amerika ini membuat film-filmnya.

Sayangnya cerita di dalam film Hitchcock ini justru lebih banyak menyentuh kehidupan pribadinya. Ceritanya memang diambil saat Hitch (panggilan akrab Alfred Hitchcock) sedang membuat film Psycho, tapi sisi pembuatan filmnya lebih cenderung sebagai pelengkap. Proses pembuatan film Psycho justru memperlihatkan bagaimana film Psycho ini mempengaruhi hidup Hitch, baik secara fisik maupun mental. Then again, it's a biography. So this is actually no surprise.

Cerita di dalam film Hitchcock menampilkan bagaimana sosok seorang Hitch menjalani hidupnya, baik sebagai seorang suami, seorang sutradara, seorang pecinta wanita-wanita pirang, maupun seorang peeping tom. Titik beratnya memang ada pada peran Hitch sebagai seorang suami karena kehadiran Alma Reville (istri Hitch) membuat film ini banyak bercerita tentang kehidupan rumah tangga Hitch. Tidak hanya sebagai istri, pengorbanan dan kerja keras Alma untuk membantu Hitch menyelesaikan Psycho pun memperlihatkan banyak hal tentang naik-turunnya hubungan antara Hitch dan Alma.

Pada akhirnya film Hitchcock ini semata-mata adalah film drama. Plotnya pun pada dasarnya hanya bercerita mengenai kehidupan pribadi seorang sutradara dengan penekanan pada hubungan si Sutradara dengan istrinya. Yang membuat film ini istimewa adalah kehadiran Alfred Hitchcock sebagai si Sutradara dan bagaimana dia membuat dobrakan dalam dunia perfilman Hollywood lewat film Psycho.

Hubungan antara Hitch dan Alma memang cukup menarik untuk diikuti, tapi saya lebih banyak terinspirasi oleh determinasi Hitch untuk terus maju membuat Psycho walaupun tidak ada satu studio film pun yang mendukungnya. Justru kehadiran Psycho ini yang membuat kehidupan rumah tangga Hitch dan Alma menjadi menarik dan memberikan inspirasi tersendiri. Semua itu serta berbagai trivia lainnya berhasil membuat film ini menjadi film drama yang tidak membosankan dan layak untuk ditonton.

Rabu, 05 Juni 2013

Fast & Furious 6

Sudah lama sekali saya tidak mengikuti franchise Fast & Furious. Saya sendiri memang tidak terlalu berminat mengikuti franchise ini karena saya beranggapan bahwa Fast & Furious itu aksinya hanya terbatas pada balapan saja. Jadi sejak film kedua (2 Fast 2 Furious), saya tidak lagi mengikuti kelanjutan ceritanya. Saat saya mendapat kesempatan untuk menonton Fast & Furious 6, harapan saya pun tidak terlalu tinggi. Saya memasuki ruangan bioskop dengan pikiran bahwa saya akan menghibur diri saya dengan aksi kejar-kejaran kecepatan tinggi dengan mobil-mobil yang membuat saya ngiler. Ternyata yang disuguhkan dalam film ini jauh di luar dugaan saya. Mulai dari kendaraan, aksi, sampai special effect-nya benar-benar top. Tidak pernah terbayang dalam benak saya bahwa saya akan melihat adegan tank dan pesawat militer di dalam film ini. Mengagumkan!

Terlepas dari itu, alasan utama saya tertarik menonton Fast & Furious 6 adalah keberadaan aktor Indonesia yang pernah memimpin serbuan polisi ke markas besar penjahat di The Raid: Redemption, yaitu Joe Taslim. Sebuah kebanggaan tersendiri bukan melihat orang Indonesia beradu akting di dalam franchise kelas dunia, bukan? Saya justru ingin melihat sendiri seberapa besar peran Joe Taslim di dalam film ini.

Ada 2 (dua) bagian yang menurut saya membuat peran Joe Taslim di film ini terlihat besar. Pertama, aksi Jah (karakter yang diperankan Joe) saat dikeroyok Roman dan Han. Terlihat jelas di dalam adegan itu bahwa Jah memang jauh lebih jago dari Roman dan Han. Kedua, dalam sebuah adegan kejar-kejaran (menggunakan mobil tentunya), Jah menggunakan Bahasa Indonesia saat dia meminta bantuan rekannya, Vegh, untuk meloloskan diri dari pengejarnya. Jadi, walaupun Jah tetap terlihat sebagai karakter yang replacable, kehadiran Jah memberi warna tersendiri di dalam film tersebut. At the very least, dengan berperan sebagai Jah, Joe Taslim sudah membuktikan bahwa aktor laga Indonesia sudah layak tampil dalam film-film kelas dunia.

Selain Joe Taslim dan berbagai aksi spektakuler yang disajikan dalam Fast & Furious 6, faktor lain yang membuat saya mengacungi jempol adalah faktor multi-etnis. Jagoan-jagoan di film ini tidak lagi terbatas pada orang Amerika saja. Sebenarnya elemen multi-etnis ini sudah terlihat di beberapa film dan serial sejak beberapa tahun yang lalu, tapi tetap saja patut diacungi jempol bahwa franchise terkenal ini tetap menampilkan karakter dari berbagai etnis, baik sebagai protagonis maupun antagonis. Yang pasti, kehadiran orang-orang non-Amerika di dalam sebuah film Hollywood merupakan faktor yang menarik bagi saya. Hal ini jelas menambah daya tarik sebuah film dengan plot, aksi, dan special effect yang dari awalnya memang sudah "terlanjur" menarik.

Lalu bagaimana dengan kekurangan film ini? Hard to say. Saya hanya seorang penggemar film biasa; bukan seorang pengkritik film. Yang bisa saya katakan, film ini ini adalah film yang menegangkan dan sangat jauh dari kata "membosankan". Bahkan rasa kantuk yang melanda saya bisa hilang begitu saja selama saya menonton film ini. Truly worth watching... dan adegan penutupnya berhasil membuat saya penasaran dengan sequel berikutnya. Tidak banyak hal lain yang bisa saya ceritakan tentang film ini. Jadi, selamat menonton!