Tampilkan postingan dengan label Family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Family. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Juni 2013

Escape from Planet Earth

Di balik kesan science fiction yang ditawarkan, film Escape from Planet Earth ini mengangkat tema yang cukup akrab, yaitu tentang kehidupan 2 (dua) kakak beradik bernama Gary dan Scorch. Gary dan Scorch bekerja pada sebuah lembaga antariksa di Planet Baab. Mereka selalu bekerja dalam 1 tim yang sama. Sebenarnya, "tim" yang dimaksud di sini memang terdiri dari Gary dan Scorch saja. Sampai akhirnya Scorch harus menjalani sebuah misi yang tidak disetujui oleh Gary. Akhirnya Scorch, untuk pertama kalinya, bertugas tanpa Gary. Sayangnya di misi ini Scorch tertangkap dan hanya Gary yang bisa menyelamatkan Scorch.

Kemudian jalan cerita di dalam film ini pun berlanjut sebagaimana tebakan mayoritas penggemar film keluarga seperti saya. Jalan ceritanya tidak rumit dan sangat mudah ditebak. Adegan demi adegan berganti, tapi tetap saja tidak tampak satu pun unsur kejutan di sepanjang film ini. Bahkan bisa saya katakan kalau jalan cerita film ini terasa hambar.

Untungnya film Escape from Planet Earth ini kaya dengan adegan-adegan lucu. Saya bahkan bisa tertawa lepas di beberapa adegan dalam film ini. Di balik kesederhanaan alur cerita, film ini berhasil menangkap hati saya lewat humor. Jadi walaupun jalan ceritanya terasa hambar, pengalaman menonton film Escape from Planet Earth ini tetap memuaskan.

Selain humor, hal yang menarik dari film ini tentu saja animasinya. Mata saya benar-benar dimanjakan oleh animasi di dalam film ini. Memang tidak terasa ada hal baru yang ditawarkan lewat animasinya, tapi animasinya memang terlihat indah; titik beratnya tentu saja ada pada pemandangan planet Baab. Karakter-karakternya pun unik dan lucu, tapi sayang tidak ada gerombolan Minions.

Secara keseluruhan, Escape from Planet Earth ini bukan film yang istimewa. Dapat dikatakan bahwa film ini memang dari awal tidak dibuat untuk menjadi film yang istimewa. Walaupun begitu, di balik kesederhanaan alur ceritanya, film ini tetap mampu menghadirkan tawa dan menghibur hati penontonnya. Kalau Anda sedang memiliki waktu luang dan butuh sesuatu yang "menyegarkan", coba tonton film ini.

Minggu, 19 Mei 2013

Where the Wild Things Are

Film ini bercerita tentang Max. Max adalah seorang anak laki-laki yang memiliki daya imajinasi yang tak mengenal batas. Namun di balik semua rasa senang yang dia dapatkan saat dia bermain, Max memendam perasaan kesepian. Max merasa dirinya kurang diperhatikan oleh ibu dan kakaknya sementara Max sendiri tidak memiliki teman bermain. Rasa kesepian yang melanda Max ini lama-lama menumpuk dan keluar dalam bentuk amarah. Pada suatu malam, Max yang kecewa karena tidak digubris oleh ibunya pun mulai marah-marah sampai akhirnya ibunya pun balik memarahi Max. Di tengah-tengah konflik itu, Max memutuskan untuk lari sejauh mungkin dari rumahnya dan berpetualang menuju sebuah pulau where the wild things are (terjemahan: tempat para makhluk liar berada).

Cerita dalam film Where the Wild Things Are ini berlanjut dengan petualangan Max bersama para wild things yang bernama Carol, Ira, Judith, Alexander, Douglas, KW, dan The Bull. Max yang tiba-tiba muncul di pulau ini pada awalnya dijauhi oleh para wild things. Namun pada akhirnya Max berhasil berteman dengan mereka dan mereka bahkan menjadikan Max sebagai pemimpin mereka. Seiring berjalannya waktu, kehadiran Max pun secara perlahan membawa banyak perubahan ke dalam kehidupan para wild things, baik perubahan-perubahan positif maupun negatif.

Saya tidak akan menulis lebih lanjut tentang plot film ini karena saya khawatir akan membeberkan jalan ceritanya. Satu hal yang pasti, film ini adalah salah satu film dengan plot yang sangat sederhana. Wajar saja karena film ini memang merupakan hasil adaptasi dari sebuah buku cerita anak-anak dengan judul yang sama. Saya sendiri belum pernah membaca buku cerita tersebut, tapi saya yakin jalan ceritanya tidak rumit. Justru yang membuat saya penasaran adalah bagaimana sebuah buku cerita anak-anak sepanjang 48 halaman ini bisa dikembangkan ke dalam film dengan durasi sekitar 100 menit.

Kesederhanaan cerita dalam film ini justru menjadi nilai tambah karena jalan ceritanya lebih mudah dimengerti oleh anak-anak. Apalagi isu yang diangkat dalam ceritanya adalah tantrum, sebuah isu yang sangat erat dengan anak-anak. Cerita di dalam film ini berhasil menjelaskan apa itu tantrum dan mengapa hal itu tidak baik dengan pendekatan yang lebih seru dan mengena. Kenapa bisa lebih mengena? Karena film ini mengajak anak-anak untuk berkaca dan mencoba melihat tantrum dari sudut pandang orang ketiga; bukan dari sudut pandang mereka sendiri.

Dan yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana cerita di dalam film ini juga menunjukan urgensi rasa kasih sayang dan kepedulian yang ada dalam keluarga. Max memang digambarkan sebagai seorang anak yang kesepian dan pemarah, tapi petualangan yang dilalui Max telah membuka matanya dan membawanya kembali ke pelukan penuh kasih ibunya. Bagaimana ceritanya? Silakan ditonton sendiri. Jangan lupa mengajak anak atau keponakan saat menonton film ini karena nilai moral dalam film ini begitu penting untuk ditanamkan dalam diri mereka.

Minggu, 31 Maret 2013

Tad, The Lost Explorer

Jarang-jarang saya menulis lebih dari 1 (satu) review film pada hari yang sama. Review kali ini adalah tentang film berjudul Tad, The Lost Explorer. Tad, The Lost Explorer adalah sebuah film petualangan sejenis Indiana Jones. Sayangnya saya tidak terlalu ingat film-film Indiana Jones yang pernah saya tonton. Film jenis petualangan seperti ini yang terakhir saya tonton adalah The Adventures of Tintin.

Film ini bercerita tentang petualangan Tad, seorang pekerja konstruksi, yang "diutus" menggantikan Profesor Humbert untuk membawa kepingan artifak ke sebuah situs arkeologi. Bagaimana mungkin seorang pekerja konstruksi diutus menggantikan seorang profesor? Silakan menonton sendiri untuk tahu ceritanya. Intinya adalah Tad akhirnya terlibat dalam petualangan seru untuk menemukan sebuah kota legenda penuh emas sambil berusaha menghindari komplotan penjahat yang juga ingin menguasai emas tersebut.

Walaupun terkesan seru, saya masih beranggapan bahwa film ini (Tad, The Lost Explorer) tidak terlalu spesial. Alur cerita dan berbagai misteri di balik petualangan yang disajikan dalam film ini tidak terlalu istimewa. Kalau dibandingkan dengan The Adventures of Tintin, film ini jelas kalah menegangkan. Plot twist yang tersurat di dalam film ini pun mudah ditebak; bahkan oleh saya yang terbilang jarang menonton film dengan genre seperti ini.

Hanya saja kualitas animasi Tad, The Lost Explorer ini bisa diacungi jempol; satu jempol saja. Gerakan karakter-karakternya tidak kaku dan lingkungan di sekitar karakter-karakter utamanya masih terlihat hidup. Kualitasnya memang tidak spesial, tapi tentu saja tidak mengecewakan. Animasi yang disajikan oleh film ini membuat saya tetap bisa menikmati jalan ceritanya yang cenderung monoton.

Hal menarik lainnya dalam film ini tentu saja unsur komedinya. Karakter-karakter pembantu di dalam film ini cukup berhasil membuat saya tertawa, terutama Jeff dan Belzoni. Hanya saja unsur komedinya memang tidak banyak dan lebih banyak mengandalkan lelucon slapstick, tapi porsinya cukup memadai untuk menghilangkan rasa bosan saat menonton film ini. Dengan kombinasi animasi dan komedi yang baik, film Tad, The Lost Explorer bisa menjadi alternatif tontontan di akhir pekan.

The Lorax

Thneedville, sebuah kota yang penuh dengan barang-barang plastik. Bahkan pohon-pohonnya pun dibuat dari bahan plastik; salah satu modelnya butuh 96 batere (kemungkinan batere ukuran AA). Thneedville tumbuh megah di tengah-tengah dunia yang tidak memiliki udara bersih. Penduduknya harus mengeluarkan uang lebih untuk membeli udara bersih. Kenapa? Karena di dunia ini tidak ada satu pohon pun yang hidup.

Thneedville adalah kota yang menjadi pusat cerita dalam film The Lorax. Berdasarkan namanya, Thneedville adalah kota yang dibangun dari start up sukses bernama Thneed. Kesuksesan produk Thneed ini sepertinya menjadi cikal-bakal berkembangknya kota bernama Thneedville. Hanya saja Thneed ini pula yang menjadi sumber malapetaka di Thneedville karena semakin banyak Thneed yang dijual, semakin banyak pohon yang harus ditebang untuk dijadikan bahan bakunya.

Cerita dalam film The Lorax ini berputar pada ketiadaan pohon pasca kesuksesan (dan kebangkrutan) usaha Thneed. Seorang remaja pria bernama Ted, demi mendapatkan hati dari cinta sejatinya, berpetualang mencari Once-ler (baca: Wansler) untuk mendapatkan sebuah pohon yang asli. Menurut legenda, Once-ler adalah orang yang tahu tentang sejarah kelam hilangnya pohon-pohon di dunia ini. Singkat cerita (dan demi menjaga tidak banyaknya spoiler dalam tulisan ini), Once-ler memberikan bibit pohon terakhir kepada Ted. Cerita pun berlanjut dengan petualangan Ted untuk menanam bibit terakhir ini.

The Lorax memang merupakan sebuah film dengan nilai moral yang kental tentang lingkungan hidup. Tema lingkungan hidup dalam film ini bahkan sempat mengingatkan saya pada film Wall-E. Bedanya dengan Wall-E, film The Lorax ini memiliki alur cerita yang sedikit lebih sederhana. Film The Lorax ini pada dasarnya bercerita tentang keserakahan. Keserakahan ini telah membuat Once-ler menghancurkan pohon-pohon demi kesuksesan bisnisnya. Untungnya penyesalan Once-ler dan determinasi Ted berhasil mengembalikan harapan hidup bagi pohon-pohon dan dunia dengan udara yang kotor ini.

Memang ada banyak hal positif dalam film The Lorax. Ceritanya cukup seru, animasinya ciamik (dibuat oleh para pembuat Despicable Me) dengan karakter-karakter yang unik dan lucu, dan nilai-nilai di balik ceritanya sangat penting untuk dipahami para penerus bangsa (baca: anak-anak). The Lorax adalah film yang menarik dan sangat cocok ditonton bersama keluarga, baik keluarga sendiri maupun keluarga tetangga.

Selasa, 19 Maret 2013

Brave

Saya baru saja menonton sebuah video TED yang berjudul How movies teach manhood. Video itu menjelaskan banyak hal terkait peran yang diberikan kepada wanita dalam film. Saya setuju memang peran utama dalam film-film saat ini lebih banyak diberikan kepada pria, baik pria dalam bentuk manusia, binatang, karakter video game, maupun pria dalam bentuk lainnya. Film-film yang saya tahu dan lebih mengedepankan karakter-karakter wanita dalam ceritanya memang tidak terlalu banyak.

Salah satu contoh film yang menjadikan wanita sebagai karakter utama dalam ceritanya adalah Brave. Hal ini menjadikan Brave sebagai salah satu film yang berkesan bagi saya. Sebenarnya ide ceritanya tidak terlalu istimewa, yaitu tentang seorang gadis tomboi yang tidak mau hidup di bawah bayang-bayang orang tuanya. Hanya saja cerita "pemberontakan" Merida (gadis yang menjadi tokoh utama dalam film ini) terasa lebih menarik karena melibatkan seorang penyihir dan sebuah kutukan.

Yang juga menarik dari film Brave ini adalah hubungan antara ibu dan anak perempuan yang diperlihatkan sepanjang film. Ibu Merida (yang secara kebetulan adalah seorang ratu) merupakan wanita yang tegas; bahkan lebih tegas dari suaminya. Sayangnya dalam mendidik Merida, Sang Ibu ini terlalu memaksakan keinginannya. Jadi sepanjang film ini kita akan melihat perseteruan antara anak perempuan dan ibunya yang sama-sama memaksakan keinginannya.

Walaupun begitu, satu poin yang paling berkesan bagi saya dalam film Brave ini adalah tidak adanya pernak-pernik asmara di dalam ceritanya. Seperti yang saya sampaikan di atas, ide cerita dalam film ini memang tidak terlalu istimewa sehingga saya pun menduga bahwa Merida ini pada akhirnya akan bertemu juga dengan pria impiannya. Ternyata sampai akhir film pun Merida tetap menjadi Merida yang independent, single, and "quite" available.

Film Brave memang sangat menonjol di sisi animasinya; sangat menonjol. Ide ceritanya memang biasa saja, tapi saya pribadi masih terhibur dengan kualitas animasi yang disuguhkan lewat film ini. Kalau kita ingin menonton film dengan peran utama wanita yang memiliki cerita yang mendalam, saya sarankan untuk menonton film-film produksi Studio Ghibli seperti The Cat Returns, Kiki's Delivery Service, PonyoMy Neighbor Totoro, atau Spirited Away.

Minggu, 10 Maret 2013

Rise of the Guardians

Rise of the Guardians adalah film fantasi yang penuh aksi dengan plot yang seru dan animasi yang memanjakan mata penonton. Film ini bercerita tentang sekelompok "Guardian", yaitu Santa Claus, Easter Bunny, Tooth Fairy, dan Sandman. Setiap karakter Guardian ini digambarkan sebagai karakter yang "modern"; jauh dari gambaran karakter-karakter ini pada umumnya. Film ini tidak hanya berusaha menghidupkan keempat mitos ini, tapi juga menampilkan persepsi yang berbeda (baca: jauh lebih keren) terhadap mereka. Frankly, I'm impressed and I believe that you'll be impressed as well when you watch the movie.

Terlepas dari karakter-karakter yang menarik itu, film Rise of the Guardians ini juga memiliki alur cerita yang menarik untuk diikuti. Ceritanya bermula saat Santa Claus menyadari kehadiran sosok jahat yang bernama Pitch Black yang juga dikenal dalam mitos sebagai Boogeyman. Pitch Black adalah mitos yang identik dengan rasa takut dan sepertinya sangat terkenal di kalangan karakter-karakter mitos karena sifat jahatnya. Kehadirannya memaksa Santa Claus untuk memanggil para Guardian yang lain untuk memastikan keberadaan Pitch Black dan mencegah rencana jahatnya. Saat mereka berempat berkumpul, Man in the Moon (yet another mythical character) memutuskan untuk menugaskan karakter mitos lainnya sebagai Guardian. Karakter mitos yang dipilih oleh Man in the Moon adalah... wait for it... Jack Frost.

Jack Frost yang digambarkan sebagai karakter yang cuek dan suka main-main pada awalnya tidak mau menjadi Guardian. Penolakan dia sepertinya juga diwarnai oleh rasa irinya karena tidak ada anak-anak yang mempercayai keberadaannya. Dalam film ini, Jack Frost itu ibarat mitos dalam mitos. Mitos yang dipercaya keberadaannya dapat dilihat dan bahkan dapat berinteraksi dengan anak-anak, sementara "mitos dalam mitos" seperti Jack Frost ini bahkan tidak dapat disentuh oleh anak-anak. Sad, isn't it?

One thing led to another, akhirnya Jack Frost bergabung dengan para Guardian untuk melawan Pitch. Alur cerita dalam film pun langsung fokus pada aksi 5 (lima) jagoan kita menghadapi bala tentara kuda hitam yang berada di bawah kendali Pitch Black. Tentu saja ceritanya tidak monoton dan hanya berisi baku-hantam antara kekuatan baik dan kekuatan jahat. Di balik adegan-adegan aksi yang seru ini, kita bisa melihat betapa kesepiannya Jack Frost dan Pitch Black yang tidak dipercaya keberadaannya. Di bagian cerita ini, emosi penonton pun turut dilibatkan saat Jack Frost dan Pitch Black berjuang untuk dipercaya oleh anak-anak dan keluar dari perasaan sepi yang berkepanjangan itu. Yang disayangkan adalah Pitch Black lebih memilih cara-cara kotor untuk mencapai keinginannya.

Film ini pun sesekali waktu menyelipkan lelucon di tengah-tengah cerita. Lelucon-lelucon ini untungnya tidak berlebihan dan tidak dipaksakan. Kehadiran Baby Tooth, Elf dan Yeti juga ikut meramaikan suasana ceria di dalam film ini. Para Elf, khususnya, mengingatkan saya pada the adorable minions dalam film Despicable Me. Ada begitu banyak hal menarik dalam film ini yang dapat menghibur siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa. Dengan kombinasi aksi, emosi, dan komedi ini, film Rise of the Guardians adalah sebuah film yang sangat layak untuk ditonton. Have fun!

Minggu, 17 Februari 2013

Wreck-it Ralph

Film animasi ketiga yang akan saya bahas di blog ini adalah Wreck-it Ralph. Sejak awal saya tahu mengenai Wreck-it Ralph, saya langsung tambahkan film ini ke dalam wishlist saya. Siapa yang tidak suka film animasi yang bercerita tentang karakter jahat di sebuah game yang ingin berubah menjadi karakter baik? Yang pasti, saya suka.

Seperti yang saya bayangkan, Wreck-it Ralph menceritakan suatu dunia tersendiri yang berisi karakter-karakter game dengan balada kehidupan mereka masing-masing. Dunia ini ada di balik sebuah pusat game seperti Time Zone atau, untuk mereka yang [uhuk] lebih berumur [uhuk], tempat main ding-dong. Bayangkan semua karakter game di pusat game itu berkumpul, bercengkerama, bergaul, dan melakukan hal-hal yang biasa kita lakukan sepulang kerja; dimulai saat pusat game itu tutup. It's like a combination of Toy Story 3 and Monsters, Inc. Seru? Buat saya, seru dan nostalgic.

Paling tidak perasaan seperti itu yang saya rasakan di awal film ini. Seiring waktu, cerita pun mulai fokus pada Ralph, karakter jahat di game Fix-it Felix Jr., yang bertekad untuk menjadi karakter baik. Ceritanya pun bergulir dengan pola yang cukup mudah ditebak. Awalnya diisi dengan cerita yang ringan; Ralph seolah-olah bisa segera mendapatkan impiannya. Kemudian saat segala sesuatu berjalan mulus bagi Ralph, masalah pun mulai bermunculan; satu demi satu. But I'll spare you the details.

Di dalam petualangannya itulah Ralph menemukan banyak hal baru; termasuk bertemu dengan gadis cilik imut yang nyolot bin nyebelin bernama Vanellope von Something. Seperti yang bisa kita duga, pertemuan dengan Vanellope ini merupakan awal perubahan sikap Ralph. Ralph yang tadinya begitu bersemangat (baca: memaksa) untuk diakui sebagai karakter baik, perlahan mulai melunak dan menyadari ada yang lebih penting daripada menjadi karakter baik di dalam sebuah game, yaitu berusaha menerima dirinya apa adanya.

Moral value di film ini memang cukup dalam. Bisa dibayangkan betapa mendalamnya kesan yang diberikan Ralph saat dia akhirnya bisa menegaskan pada dirinya bahwa "I am bad, and that's good.... I will never be good, and that's not bad.... There's no one I'd rather be than me." saat dia mengorbankan diri dengan meluncur bebas dari langit ke sebuah "gunung berapi" demi menyelamatkan dunia game itu dari kehancuran. Di balik itu pun masih ada nilai-nilai positif  lainnya seperti efek buruk rasa iri dan keegoisan, pentingnya bergerak meninggalkan masa lalu yang kelam, bagaimana menghargai orang lain terlepas dari apa pun "profesi" orang itu, dan berbagai pesan moral lainnya. Walaupun begitu, film ini masih tetap seru untuk dinikmati apa adanya (baca: tanpa perlu memikirkan pesan moral apa pun).

PS:
Satu-satunya hal yang saya sayangkan dari film ini adalah kemunculan karakter-karakter game lain seperti Sonic the Hedgehog atau Ryu (Street Fighter) hanya sekilas dan tidak mempengaruhi plot sama sekali.

Sabtu, 26 Januari 2013

Hotel Transylvania

Film animasi pertama yang akan saya bahas di blog ini adalah Hotel Transylvania. Film ini sempat masuk wishlist saya karena poster dan trailer-nya memang menggiurkan. Saya menaruh harapan banyak pada film ini karena rasanya memang sudah lama sekali saya tidak menonton film animasi yang memanjakan mata.

Disclaimer (yang sangat terlambat): Setiap ulasan di blog ini kemungkinan besar mengandung spoiler. Continue at your own risk.

Animasi film Hotel Transylvania memang mantap. Paling tidak, animasi yang disajikan di dalam film ini sudah memenuhi standar kepuasan saya. Kualitas animasinya memuaskan dan gambaran karakter-karakternya pun lucu dan menarik. Yang disayangkan adalah "hotel"-nya itu sendiri tidak terlalu diekspos. Sepertinya menarik bila ada adegan yang mengajak kita melihat megahnya Hotel Transylvania di film Hotel Transylvania ini.

Animasi di film ini memang memuaskan, lalu bagaimana dengan plotnya? Tentu saja ba.... Tidak. Ternyata plot film ini tidak lebih dari plot drama remaja pada umumnya. You know, that story when a teenager turns 18 and ready to explore the world when her over-protective father decided to get in her way. Sounds very-very-very familiar, right? Bahkan twist di dalam film ini pun gitu-gitu doang. Bedanya adalah film ini memasukan berbagai varian monster ke dalam ceritanya.

Justru unsur monster ini yang membuat film ini tetap menarik. Walaupun dari sisi plot saya tidak lagi berharap banyak, berbagai kelakuan lucu yang dilakukan monster-monster di Hotel Transylvania ini berhasil mengangkat citra film ini di mata saya. Bahkan ada beberapa kelakar dan adegan lucu yang membuat saya bisa tertawa dengan puas. Those were the most enjoyable moments I had when I'm watching this movie.

Kesimpulan saya adalah film ini adalah film dengan plot yang sangat-super-sederhana. Plotnya begitu sederhana sampai saya dibuat speechless di bagian akhir film; speechless dengan ekpresi muka yang datar tentunya. Bahkan rangkaian adegan penutup, yang menurut saya adalah bagian klimaks dari film ini, justru membuat plot di film ini terkesan "maksa". Pada akhirnya, walaupun saya beri jempol untuk animasinya, film Hotel Transylvania tidak memberikan kesan yang berarti dalam benak saya.

Salam Dracula. Bleh, ble-bleh.

P.S.:
Sangat besar kemungkinannya bahwa tingginya harapan saya pada plot film Hotel Transylvania ini dipengaruhi oleh kesan yang mendalam saat saya menonton film Monsters, Inc.