Tampilkan postingan dengan label Thriller. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thriller. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Oktober 2013

World War Z

Tidak banyak film bertema zombie yang pernah saya tonton karena saya merasa film-film seperti ini sudah terlalu repetitif. Yang diceritakan dalam sebuah film tentang zombie ini biasanya tentang sekelompok orang yang berusaha melarikan diri dari kejaran zombie. Inti dari film-film seperti ini pada akhirnya hanya masalah bertahan hidup. Walaupun begitu, masih ada satu hal yang bisa membuat saya tertarik untuk menonton film bertema zombie, yaitu wabah. Faktor "wabah" ini yang membuat film 28 Days Later dan 28 Weeks Later memberikan kesan yang mendalam pada diri saya.

Kemudian World War Z pun hadir. Umat manusia lagi-lagi di ambang kebinasaan akibat sebuah wabah penyakit sejenis rabies yang membunuh para manusia dan merubah korbannya menjadi binatang buas. It's happening and it's happening in every corner of the world. Tanpa banyak basa-basi, film ini langsung mengajak penontonnya ke jalur cepat seiring dengan runtuhnya kota-kota besar di seluruh dunia akibat serangan zombie.

Seluruh dunia? Ya, seluruh dunia. Seiring waktu, kita diajak berkeliling bersama Gerry Lane untuk "mengunjungi" kota-kota di berbagai negara yang sudah mati karena serangan zombie. Gerry harus pindah dari satu kota ke kota yang lain di dunia ini untuk mencari tahu penyebab wabah ini dan menemukan cara untuk mengatasinya. Harapan untuk menemukan jawaban senantiasa datang dan pergi seiring berpindahnya Gerry dari satu kota ke kota yang lain. Hal ini yang membuat cerita di World War Z menjadi menarik.

Selain itu, World War Z juga punya sisi keaslian yang tidak kalah menariknya. Sisi keaslian ini ada pada solusi yang ditemukan oleh Gerry Lane. Apa yang Gerry temukan? Saya serahkan pada Anda untuk mengetahuinya sendiri. Satu hal yang pasti, Gerry bukan menemukan sesuatu yang dapat langsung mengakhiri wabah zombie ini. Gerry justru menemukan sesuatu yang dapat mempersiapkan umat manusia untuk memerangi para zombie. Seperti halnya yang Gerry katakan setelah penemuan itu: "Our war has just begun."

Menarik, bukan? Buat saya film ini menarik. World War Z tidak hanya menyuguhkan aksi yang seru dan menegangkan, tapi juga memiliki cerita yang menarik untuk diikuti. Film ini berhasil menghidupkan kembali minat saya untuk menonton film-film bertema zombie, walaupun kemungkinan besar film bertema zombie yang akan saya tonton berikutnya hanyalah sequel dari film ini.

Rabu, 05 Juni 2013

Fast & Furious 6

Sudah lama sekali saya tidak mengikuti franchise Fast & Furious. Saya sendiri memang tidak terlalu berminat mengikuti franchise ini karena saya beranggapan bahwa Fast & Furious itu aksinya hanya terbatas pada balapan saja. Jadi sejak film kedua (2 Fast 2 Furious), saya tidak lagi mengikuti kelanjutan ceritanya. Saat saya mendapat kesempatan untuk menonton Fast & Furious 6, harapan saya pun tidak terlalu tinggi. Saya memasuki ruangan bioskop dengan pikiran bahwa saya akan menghibur diri saya dengan aksi kejar-kejaran kecepatan tinggi dengan mobil-mobil yang membuat saya ngiler. Ternyata yang disuguhkan dalam film ini jauh di luar dugaan saya. Mulai dari kendaraan, aksi, sampai special effect-nya benar-benar top. Tidak pernah terbayang dalam benak saya bahwa saya akan melihat adegan tank dan pesawat militer di dalam film ini. Mengagumkan!

Terlepas dari itu, alasan utama saya tertarik menonton Fast & Furious 6 adalah keberadaan aktor Indonesia yang pernah memimpin serbuan polisi ke markas besar penjahat di The Raid: Redemption, yaitu Joe Taslim. Sebuah kebanggaan tersendiri bukan melihat orang Indonesia beradu akting di dalam franchise kelas dunia, bukan? Saya justru ingin melihat sendiri seberapa besar peran Joe Taslim di dalam film ini.

Ada 2 (dua) bagian yang menurut saya membuat peran Joe Taslim di film ini terlihat besar. Pertama, aksi Jah (karakter yang diperankan Joe) saat dikeroyok Roman dan Han. Terlihat jelas di dalam adegan itu bahwa Jah memang jauh lebih jago dari Roman dan Han. Kedua, dalam sebuah adegan kejar-kejaran (menggunakan mobil tentunya), Jah menggunakan Bahasa Indonesia saat dia meminta bantuan rekannya, Vegh, untuk meloloskan diri dari pengejarnya. Jadi, walaupun Jah tetap terlihat sebagai karakter yang replacable, kehadiran Jah memberi warna tersendiri di dalam film tersebut. At the very least, dengan berperan sebagai Jah, Joe Taslim sudah membuktikan bahwa aktor laga Indonesia sudah layak tampil dalam film-film kelas dunia.

Selain Joe Taslim dan berbagai aksi spektakuler yang disajikan dalam Fast & Furious 6, faktor lain yang membuat saya mengacungi jempol adalah faktor multi-etnis. Jagoan-jagoan di film ini tidak lagi terbatas pada orang Amerika saja. Sebenarnya elemen multi-etnis ini sudah terlihat di beberapa film dan serial sejak beberapa tahun yang lalu, tapi tetap saja patut diacungi jempol bahwa franchise terkenal ini tetap menampilkan karakter dari berbagai etnis, baik sebagai protagonis maupun antagonis. Yang pasti, kehadiran orang-orang non-Amerika di dalam sebuah film Hollywood merupakan faktor yang menarik bagi saya. Hal ini jelas menambah daya tarik sebuah film dengan plot, aksi, dan special effect yang dari awalnya memang sudah "terlanjur" menarik.

Lalu bagaimana dengan kekurangan film ini? Hard to say. Saya hanya seorang penggemar film biasa; bukan seorang pengkritik film. Yang bisa saya katakan, film ini ini adalah film yang menegangkan dan sangat jauh dari kata "membosankan". Bahkan rasa kantuk yang melanda saya bisa hilang begitu saja selama saya menonton film ini. Truly worth watching... dan adegan penutupnya berhasil membuat saya penasaran dengan sequel berikutnya. Tidak banyak hal lain yang bisa saya ceritakan tentang film ini. Jadi, selamat menonton!

Sabtu, 04 Mei 2013

Lego Batman: The Movie

Akhir pekan kali ini saya awali dengan menonton Lego Batman: The Movie bersama anak-anak. Sudah lama saya penasaran dengan film-film "Lego" ini, tapi baru kali ini saya berhasil meluangkan waktu menontonnya. Saya sengaja memilih edisi Batman karena memang anak-anak saya sudah mengenal tokoh pembela kebenaran yang satu ini.

Di luar dugaan saya, ternyata animasi yang ditawarkan di film Lego Batman ini cukup menarik. Memang awalnya saya pikir animasinya akan kaku dan tidak enak ditonton. Ternyata gerakan-gerakan karakternya mulus dan gambar latarnya pun tidak mengecewakan. Memang ada bagian-bagian yang sengaja dibuat "kaku" seperti gambar api yang benar-benar berbentuk seperti mainan lego yang ditempel di papan, tapi saya merasa bagian-bagian seperti ini justru menjadi ciri khas film lego.

Alur ceritanya pun tidak membosankan. Memang terlihat jelas bahwa alur cerita di dalam film ini tidak dibuat rumit, tapi tetap saja cukup seru untuk ditonton sampai selesai. Walaupun perjuangan Batman dan kawan-kawan melawan penjahat di dalam film ini mudah ditebak, film ini masih bisa menyajikan penampilan yang menghibur dan menyenangkan untuk ditonton.

Hal lain yang menarik dan juga tidak saya duga adalah kadar lelucon di dalam film ini. Saya sendiri tidak menyangka bahwa saya akan tertawa lepas menonton aksi Batman dan para superhero Justice League. Di balik perseteruan para pembela kebenaran dan para penjahat, polah tingkah lucu mereka membuat ceritanya tidak terus-menerus serius. Kelucuan-kelucuan mereka memberikan hiburan tersendiri di tengah kekacauan di kota Gotham.

Secara keseluruhan, film ini merupakan film yang pas untuk ditonton bersama anak-anak; terutama anak laki-laki yang gemar cerita aksi. Lebih pas lagi bila anak-anak yang menonton ini sudah terlebih dahulu mengenal tokoh-tokoh Justice League karena mereka akan melihat sisi yang lebih santai dari tokoh-tokoh ini. Hal ini bisa jadi merupakan hal yang bagus karena tak selamanya membela kebenaran itu rumit, kaku, dan serius.

Senin, 29 April 2013

Bedevilled

Bok-nam adalah seorang wanita yang diperlakukan dengan kasar, buruk, dan tidak adil oleh suami dan keluarga besarnya. Dia pun berusaha untuk melepaskan diri dari situasi buruk yang dihadapinya. Berbagai cara dia lakukan untuk keluar dari neraka itu. Dia meminta tolong kepada setiap orang yang berpeluang membantunya, mulai dari teman baiknya hingga seorang pelacur yang tidak terlalu dia kenal. Sayangnya tidak ada satu pun usahanya yang membuahkan hasil. Sampai suatu saat terjadi insiden yang menyebabkan anak satu-satunya meninggal dunia. It's payback time!

Bedevilled adalah film menegangkan yang menceritakan aksi balas dendam Bok-nam. Setelah terus-menerus menerima perlakuan buruk dari suami dan keluarga suaminya, Bok-nam akhirnya kehilangan akal sehatnya setelah satu-satunya alasan dia untuk tetap hidup, yaitu anak perempuannya, mati. Akhirnya dia memutuskan bahwa semua orang yang dianggapnya bersalah atas kematian anaknya pun harus mati di tangannya; termasuk teman baiknya sendiri.

Aksi balas dendam Bok-nam begitu menegangkan untuk diikuti. Yang membuatnya "menarik" adalah karena Bok-nam adalah tipe ibu rumah tangga yang hidup sederhana. Aksi Bok-nam tidak melibatkan hal-hal canggih seperti yang terlihat di film-film seperti I Saw the Devil. Aksi balas dendam wanita ini lebih sederhana dan pada akhirnya terasa lebih brutal, misalnya seperti menebas leher menggunakan celurit. Beberapa aksinya bahkan terlihat begitu vulgar dan sangat mungkin menyebabkan rasa mual di perut para penonton.

Pemilihan lokasi pengambilan film pun memiliki andil yang kuat untuk meningkatkan ketegangan saat menonton film ini. Lokasi yang dipilih merupakan sebuah pulau terpencil seperti halnya dalam film Battle Royale, sehingga pilihan bagi Bok-nam hanya membunuh atau dibunuh. Di sepanjang film pun kita dibuat menunggu apakah Bok-nam akan berhasil membabat habis keluarga suaminya atau justru Bok-nam yang akan dibunuh mereka?

Film ini memang brutal dan menegangkan, tapi di balik itu tetap terselip nilai moral yang kuat. Siapa pun yang menulis cerita film Bedevilled ini sepertinya ingin mengingatkan kepada kita tentang keberanian dan kepedulian kita untuk mengulurkan tangan dan membantu orang lain. Film ini seolah-olah ingin menyindir kita dengan rangkaian "seandainya": seandainya suami Bok-nam berlaku lebih baik, seandainya teman baik Bok-nam mau menolongnya, seandainya Bok-nam bertemu dengan orang baik di dunia ini, seandainya.... Bok-nam merupakan stereotip wanita baik hati yang berubah menjadi setan pembunuh karena tidak mendapatkan pertolongan dari orang-orang di sekitarnya. Nilai moral ini yang perlu kita sadari bersama karena bukan tidak mungkin kita pun sudah turut andil membuat seseorang kehilangan hati nuraninya.

Rabu, 17 April 2013

The Cabin in the Woods

Seharusnya saya bisa menduga bahwa film The Cabin in the Woods ini bukan film horor biasa saat ada kata "comedy" dalam salah satu deskripsi yang saya baca. Dengan begitu saya tidak perlu memaksakan diri untuk menontonnya. Untungnya cerita di film ini tidak mengecewakan. Setelah selesai menonton, saya berani mengatakan bahwa film ini adalah film unik yang memang menarik untuk ditonton. Film ini menyuguhkan plot yang sedikit berbeda dibandingkan film-film horor Hollywood yang pernah saya tonton. Cantik!

Setelah saya membaca ulasan lain tentang film ini, saya semakin yakin kalau film ini layak diberikan apresiasi yang besar karena berhasil menyajikan alur yang unik di balik cerita horor yang terkesan gitu-gitu doank. Walaupun film ini melibatkan sekelompok anak remaja dengan karakter klise yang sedang berlibur ke daerah terpencil (yang juga klise), cerita dalam film ini berhasil mendobrak semua klise itu lewat konspirasi skala internasional (yang tidak mengharuskan kita berpikir keras tentunya). Konspirasi? Ya, konspirasi. Silakan tonton sendiri.

Yang saya sesalkan dalam film ini adalah pilihan monster utamanya. Di balik plotnya yang unik, the Cabin in the Woods seharusnya memiliki pilihan tanpa batas untuk urusan monster. Entah apa alasannya pilihan mereka justru jatuh pada monster yang paling gak banget, yaitu zombie. Hal ini memang subjektif. Saya pribadi sudah lama menjauh dari film dengan tema zombie karena saya merasa karakter zombie ini sudah terlalu sering dieksploitasi. Seharusnya kita mengasihani para zombie itu.

Kekecewaan kedua adalah "konspirasi skala internasional" yang terkesan dipaksakan untuk muncul. Kalau memang ingin memunculkan negara-negara selain Amerika di dalam sebuah film, seharusnya mereka bisa memberikan lebih banyak waktu dan "peran" bagi negara-negara lain itu. Kalau memang durasinya tidak memungkinkan, kenapa harus membawa Jepang atau negara lain ke dalam cerita? It's pretty pointless. Itu pendapat saya.

Walaupun begitu, rasa kecewa yang muncul tidak serta-merta membuat film ini jelek di mata saya. Saya akan tetap akui bahwa uniknya plot di film ini memiliki daya jual yang tinggi. Bila kita ingin menonton film horor dengan plot yang agak out-of-the-box, maka The Cabin in the Woods adalah pilihan yang baik untuk menghabiskan waktu senggang kita.

Selasa, 15 Januari 2013

Compliance

Sebenarnya saya tidak ingin terlalu sering menulis tentang film, karena itu berarti saya harus lebih sering menonton film. Akhir-akhir ini saya sudah berhasil mengendalikan nafsu saya untuk menonton film sehingga saya hanya menonton di akhir pekan. Umumnya saya sempat menonton 1 (satu) film per pekan; atau 2, atau 3, atau .... Anyway, kali ini saya akan menulis tentang Compliance.

**

Saya selalu tertarik untuk menonton film yang inspired by true events. Film-film sejenis ini seolah-olah membawa realita dari dunia lain ke hadapan saya dan pada umumnya mampu memperluas wawasan saya; Compliance ini adalah salah satunya. Tema prank call yang diangkat dalam film ini jelas meningkatkan minat saya untuk menonton.

Tidak lama sebelum saya mengetahui keberadaan film ini, saya sempat membaca berita tentang kematian seorang perawat bernama Jachinta Saldanha --entah bagaimana pengucapan nama ini. Jachinta Saldanha ditemukan meninggal karena bunuh diri dan kematiannya dikaitkan dengan sebuah prank call yang dilakukan oleh penyiar radio --sepertinya mirip program Salah Sambung GenFM atau Tawaran Ngaco JakFM. Tidak pernah terbayang di benak saya ada prank call yang berujung pada kematian.

Bagaimana dengan Compliance? Cerita di Compliance memang tidak berujung pada kematian. Lebih parah lagi, prank call yang diceritakan di film ini justru berujung pada *uhuk* pelecehan seksual --worse than death, I assume. Film Compliance bercerita tentang telepon dari seorang polisi kepada manajer restoran fast food. Polisi ini mengatakan kepada manajer restoran tersebut bahwa salah seorang pegawainya, seorang gadis (remaja) yang bekerja sebagai kasir, dilaporkan mencuri dompet salah satu pelanggan. Dan ceritanya pun dimulai!

Si Kasir ini pun dipanggil, ditelanjangi (literally), digeledah, dan, setelah berjam-jam menderita, dipaksa melakukan oral sex. Bagaimana mungkin? Justru proses ke arah itu yang membuat Compliance ini menarik untuk ditonton. Walaupun ceritanya terbilang lambat (dan sering membuat saya geregetan), Compliance tetap berhasil menjaga minat saya sampai akhir film.

Compliance, seperti judulnya, memang bercerita tentang kepatuhan; tepatnya kepatuhan yang konyol. Rangkaian peristiwa bodoh dan tragis yang terjadi di dalam film ini terjadi karena adanya sekelompok orang yang patuh terhadap aturan tanpa mau berpikir logis. Sepanjang film ini saya gemas dengan kelakuan-kelakuan yang tidak masuk akal dari karakter-karakternya. Dan yang lebih mengenaskan lagi adalah sebagian besar insiden yang terjadi di dalam film Compliance ini, termasuk insiden oral sex, benar-benar terjadi.