Setiap orang bisa bermimpi untuk memiliki robot sebagai asisten pribadi atau pembantu rumah tangga. Di dalam film Robot & Frank, mimpi itu dibuat menjadi kenyataan. Frank adalah pria lanjut usia yang sudah mulai pikun. Dia hidup jauh dari pusat kota sehingga menyulitkan anak-anaknya untuk datang dan mengurus dia. Istrinya pun sudah pergi meninggalkannya. Frank sebenarnya sudah kesulitan mengurus hidupnya sendiri. Hingga suatu hari, anak laki-lakinya, Hunter, memutuskan untuk membeli sebuah robot untuk membantu mengurus ayahnya.
Frank, yang merasa hidupnya baik-baik saja, awalnya menolak kehadiran si Robot. Bagi Frank, robot ini tidak melakukan apa pun selain merusak hidupnya; terutama karena robot ini diprogram untuk mengatur pola hidup sehat untuk Frank. Frank yang awalnya hanya sarapan sereal pun harus siap makan sayur dan buah setiap pagi. Si Robot bahkan mengatur jadwal olah raga dan kegiatan-kegiatan positif yang dapat membantu Frank untuk tetap fokus sehingga pikunnya tidak bertambah parah. Intinya hidup Frank benar-benar dibuat jungkir balik oleh si Robot; in a good way, though.
Walaupun begitu, Frank akhirnya mengalah dan menerima kehadiran si Robot. Kenapa? Karena ternyata si Robot ini bisa diajarkan untuk membobol kunci. Frank, yang memang mantan pencuri kelas kakap, seperti menemukan kembali tujuan hidupnya yang hilang. Frank mulai beranggapan bahwa si Robot ini bisa menjadi rekan pencuri yang handal. Frank mulai mempertanyakan bagaimana sikap si Robot tentang kejujuran, kepercayaan, dan pencurian. Sampai akhirnya Frank yakin bahwa si Robot ini bisa dia libatkan dalam aksi pencurian kecil-kecilan. Dalam aksi pertamanya, Frank mengajak si Robot membobol sebuah perpustakaan lokal untuk mencuri buku Don Quixote.
Persahabatan antara Frank dan si Robot pun mulai terbentuk. Hidup Frank yang monoton dan gitu-gitu aja berubah menjadi menarik. Frank kembali menemukan gairah dalam hidupnya. Frank akhirnya menemukan sebuah tujuan hidup yang ingin dia capai sepenuh hati. Frank pun sadar bahwa semua perubahan positif dalam hidupnya ini terjadi berkat kehadiran si Robot dalam hidupnya. Robot yang sebelumnya ingin dia singkirkan itu berubah menjadi robot yang ingin dia pertahankan selama hidupnya.
Masih banyak hal-hal menarik lain yang bisa diceritakan dalam Robot & Frank, tapi saya sudah berjanji untuk tidak menulis review film lebih dari 5 (lima) paragraf. Yang pasti, film ini adalah film drama keluarga yang unik. Persahabatan antara Frank dan si Robot ini begitu menyentuh hati, tapi pada saat yang sama bisa begitu menegangkan dan asyik untuk diikuti dengan aksi-aksi pencurian yang mereka rencanakan dan lakukan. It is a movie worth 89 minutes of your time.
Minggu, 24 Februari 2013
Rabu, 20 Februari 2013
Pesan Terselubung dalam Film
Film itu memiliki pengaruh yang kuat untuk mempengaruhi pola pikir dan budaya masyarakat. Siapa pun (yang memiliki modal) dapat menyampaikan pesan-pesannya lewat film. Pesan-pesan yang disampaikan lewat film itu seringkali disampaikan secara terselubung; kontras dengan, misalnya, iklan. Pesan-pesan terselubung ini punya kekuatan pengaruh tersendiri dan penonton bisa jadi menyetujui pesan-pesan ini tanpa mereka sadari.
Rokok adalah contoh yang paling kongkrit. Kampanye paling mudah agar orang-orang menerima rokok adalah dengan membuat para aktor/aktris utama merokok. Penonton yang "kagum" dengan para aktor/aktris utama tersebut secara tidak langsung akan (secara perlahan-lahan) mengakui bahwa merokok itu tidak masalah atau bahkan keren. Pada dasarnya memang image itu yang ingin disampaikan oleh industri rokok, yaitu bahwa merokok itu keren. Dengan begitu mungkin saja orang yang tadinya anti rokok sekalipun akan menerima nilai positif dari rokok setelah beberapa kali melihat film dengan aktor utama yang merokok.
Industri rokok tentu saja bukan satu-satunya pihak yang memanfaatkan kekuatan pengaruh film ini karena pada dasarnya semua jenis isu bisa disampaikan lewat film. Google saja sudah beberapa kali "muncul" dan menjadi bagian dari cerita dalam film, walaupun "perannya" kecil. Contohnya dalam film The Smurf pada adegan saat aktor utamanya googling untuk mencari informasi tentang kemunculan bulan biru (atau informasi tentang makhluk Smurf itu sendiri ya?). Produk elektronik seperti smartphone pun sudah pasti muncul dalam film sebagai bagian "tak terpisahkan" dari kehidupan karakter-karakternya. Belum lagi produsen-produsen kendaraan dengan mobil mewah mereka yang berseliweran di dalam film-film aksi.
Pesan-pesan terselubung yang disampaikan lewat film pun tidak terbatas pada hal-hal yang bersifat komersil saja. Banyak sekali isu-isu sosial yang juga disampaikan lewat film. Bedanya adalah untuk isu-isu sosial seperti ini pesan-pesannya kadang disampaikan secara gamblang. Jenis film dokumenter adalah salah satu contoh film yang menyampaikan pesan-pesannya secara gamblang; termasuk film-film yang inspired by or based on true events.
Walaupun begitu, pesan-pesan terselubung ini masih menjadi mayoritas. Di dalam film-film aksi, bisa jadi ada pesan terselubung untuk melestarikan lingkungan hidup. Di dalam film-film remaja, bisa jadi ada pesan terselubung untuk melestarikan pergaulan bebas (atau bahkan seks bebas). Di dalam film-film drama, bisa jadi ada pesan terselubung untuk memberikan dukungan kepada komunitas LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender). Dan masih banyak lagi pesan-pesan terselubung yang masuk ke dalam pikiran kita tanpa kita sadari (karena toh tema filmnya sendiri berbeda). Kalau kita tidak ingin pola pikir dan budaya kita terpengaruh oleh film, maka kita perlu lebih kritis dan tidak menerima begitu saja cerita fiksi yang didramatisir oleh para pembuat film.
Rokok adalah contoh yang paling kongkrit. Kampanye paling mudah agar orang-orang menerima rokok adalah dengan membuat para aktor/aktris utama merokok. Penonton yang "kagum" dengan para aktor/aktris utama tersebut secara tidak langsung akan (secara perlahan-lahan) mengakui bahwa merokok itu tidak masalah atau bahkan keren. Pada dasarnya memang image itu yang ingin disampaikan oleh industri rokok, yaitu bahwa merokok itu keren. Dengan begitu mungkin saja orang yang tadinya anti rokok sekalipun akan menerima nilai positif dari rokok setelah beberapa kali melihat film dengan aktor utama yang merokok.
Industri rokok tentu saja bukan satu-satunya pihak yang memanfaatkan kekuatan pengaruh film ini karena pada dasarnya semua jenis isu bisa disampaikan lewat film. Google saja sudah beberapa kali "muncul" dan menjadi bagian dari cerita dalam film, walaupun "perannya" kecil. Contohnya dalam film The Smurf pada adegan saat aktor utamanya googling untuk mencari informasi tentang kemunculan bulan biru (atau informasi tentang makhluk Smurf itu sendiri ya?). Produk elektronik seperti smartphone pun sudah pasti muncul dalam film sebagai bagian "tak terpisahkan" dari kehidupan karakter-karakternya. Belum lagi produsen-produsen kendaraan dengan mobil mewah mereka yang berseliweran di dalam film-film aksi.
Pesan-pesan terselubung yang disampaikan lewat film pun tidak terbatas pada hal-hal yang bersifat komersil saja. Banyak sekali isu-isu sosial yang juga disampaikan lewat film. Bedanya adalah untuk isu-isu sosial seperti ini pesan-pesannya kadang disampaikan secara gamblang. Jenis film dokumenter adalah salah satu contoh film yang menyampaikan pesan-pesannya secara gamblang; termasuk film-film yang inspired by or based on true events.
Walaupun begitu, pesan-pesan terselubung ini masih menjadi mayoritas. Di dalam film-film aksi, bisa jadi ada pesan terselubung untuk melestarikan lingkungan hidup. Di dalam film-film remaja, bisa jadi ada pesan terselubung untuk melestarikan pergaulan bebas (atau bahkan seks bebas). Di dalam film-film drama, bisa jadi ada pesan terselubung untuk memberikan dukungan kepada komunitas LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender). Dan masih banyak lagi pesan-pesan terselubung yang masuk ke dalam pikiran kita tanpa kita sadari (karena toh tema filmnya sendiri berbeda). Kalau kita tidak ingin pola pikir dan budaya kita terpengaruh oleh film, maka kita perlu lebih kritis dan tidak menerima begitu saja cerita fiksi yang didramatisir oleh para pembuat film.
Langganan:
Postingan (Atom)